Baru sadar kalau design saya sekarang jadi terlalu complicated mengarah ke over designed. Mungkin menggambarkan suasana hati saya yang sudah jarang bisa tenang dan terinspirasi karena banyaknya urusan yang perlu diselesaikan dan tidak bisa diselesaikan :(
Hari ini bangun dengan perasaan yang sangat-sangat tidak enak. Dan seperti biasa, ditambah suara orang-orang yang kalau ngomong seperti ada kebakaran.
Pengen teriak sekencang-kencangnya, keluarin semua, kalau aja ada tanah lapang...
Have to learn to make my life much more simpler.
Wednesday, December 8, 2010
Thursday, December 2, 2010
Tentang Suami Istri
Tadi pagi saya telepon teman saya kuliah saya, yang juga sudah menikah. Dari urusan kerjaan, jadi bicara tentang hubungan sama suami. Ternyata kami baru saja sama-sama ribut besar sama suami. Lucunya waktu dia cerita, saya merasa ada mirip-miripnya dengan cerita saya, Jadi mikir, apa iya semua topik pertengkaran pasangan baru menikah berputar di itu-itu saja yah, tak jauh-jauh dari urusan: uang, waktu pribadi, dan pembagian tanggung jawab. Sepertinya dua orang bersatu atas nama cinta sehidup dan semati jadi komitmen yang terlalu naif, mengingat banyak dan beratnya rintangan untuk bisa hidup bersama dengan damai dan toleransi. Kalau saja yang namanya manusia bisa melihat masa depan, wah ngga jamin deh bisa banyak orang yang mau menikah.
Wednesday, December 1, 2010
Expendable
Tiga hari kemarin, saya dan dia bertengkar hebat. Penyebabnya, lagi-lagi keluarganya, setidaknya menurut versi saya... Saya tidak suka, jam kerja kami diganggu oleh urusan antar jemput bandara, yang sebenarnya bisa dikerjakan oleh orang lain. Dia marah sekali. Bilang saya tidak ada hak untuk melarang dia. Pekerjaan kantor sudah selesai sebagian, sisanya bisa diatur. Saya bilang alasannya. Buat apa dia peduli pada keluarga yang tidak mempedulikan dia. Dan dari mulutnya keluar kata-kata: 'sayang dan kewajiban' untuk keluarganya, walaupun dia tahu dia tidak diperlakukan dengan baik. Saya akui saya ada salah. Saya benci mamanya, yang kalau minta dia pergi mengantar atau menjemput ke bandara, tidak pernah bertanya dulu, apakah kami sempat atau tidak, tapi main langsung perintah. Saya kelepasan, bilang mamanya tidak punya otak. Amarahnya langsung terbakar, gelap mata, tidak peduli lagi saya siapa. Dia bilang, pernikahan kami baru seumur jagung. Kalau saya tidak suka keluarganya, saya boleh angkat kaki. Itu diucapkannya dengan mudah, seperti bilang, 'saya mau ke pasar'.
Dan itu membuat saya terluka begitu dalam...
Saya merasa masa kebersamaan kami mendadak tidak ada artinya lagi. Oh ya, saya juga baru sadar, janji di depan altar waktu pernikahan, buat dia cuma teks untuk upacara saja, bukan untuk diamalkan. Jadi mungkin bisa dibilang, pernikahan kami bercandaan. Buat apa yah waktu itu mata dia berkaca-kaca, kan semuanya cuma sandiwara...
Keesokan harinya setelah pertengkaran, kami duduk bersama membahas ini. Dan seperti biasanya, bicara dengan dia pasti penuh teriakan dan intimidasi. Saya sering merasa, bicara dengan dia tidak terlalu berguna. Kami sama-sama merasa tidak didengarkan dan dimengerti, pokonya melelahkan sekali...Yang ingin saya sampaikan pada dia adalah kalau dia merasa saya ini expendable, seperti karyawan yang bisa dia PHK sewaktu-waktu di saat dia merasa problem pernikahan terlalu berat, maka, kami punya visi yang berbeda tentang pernikahan. Pernikahan buat saya untuk selamanya, for better or worse. Saya tidak mau menikah dengan orang, yang selalu menempatkan kaki sebelahnya di luar pintu. Tidak ada rasa aman di situasi itu. Apa bedanya pernikahan dengan kontrak kerja kalau begitu. Saya tegaskan lagi, kalau dia tidak sevisi dengan saya, maka dia bukan orang yang saya cari untuk teman hidup saya. Lebih baik kami akhiri saja. Tidak hari ini, bulan depan tahun depan, akan meledak lagi, dengan rasa sakit yang lebih hebat pastinya.
Tapi dia bilang minta maaf telah menyakiti saya. Dia bilang akan bersama saya sampai tua.
Malam itu saya tidur dengan perasaan yang lebih baik. Tapi paginya saya bangun merasa bodoh sekali. Bisa-bisanya saya, selama 3 tahun ini begitu naif untuk percaya 100% pada dia. Being silly, talked about everything, consulted for every step I took... And he was so loving, as if the word divorced never crossed in his mind. Bahkan saya sudah menempatkan dia di atas keluarga saya, padahal buat dia, keluarganya ada di atas saya. Bodohnya saya, kalau dia bercerita tentang masa kecilnya yang tidak bahagia atau omongan orang tuanya yang membuat dia sedih dan marah, saya ikut berempati, ikut benci pada keluarganya. Padahal keluarganya tidak melakukan apapun pada saya. Ya, saya salah di sebelah sana. Being too emotionally involved! Ternyata orangnya mungkin cuma bisa bilang benci di mulut, keras di kelakuan, tapi punya hati yang tidak tegaan. Dan tebak waktu saya ikutan marah pada keluarganya, dan menunjukkan sikap tidak senang, siapa yang mengamuk? DIA, ternyata...
Yah, saya dua kali salah. Dan harga yang harus dibayar mahal harganya. Saya menyakiti diri sendiri, menyakit dia dia juga.
Yang sekarang terjadi adalah saya kehilangan semua kepercayaan pada dirinya. Dia juga bilang, tidak percaya lagi pada saya karena ternyata saya tidak suka keluarganya. 'Hello... gimana saya bisa suka sama keluarga lo, kalo elo sendiri, yang lahir dari mereka aja benci sama mereka? Gimana saya bisa hormat ke mama kamu, kalo yang kamu ceritakan adalah dia yang bertanggung jawab atas kehilangan kepercayaan diri kamu, dengan mengata-ngatai dan menyabeti kamu, waktu kamu kesulitan belajar dulu?'
Saya juga kehilangan rasa kedekatan saya pada dia. Bahkan menyentuh dia saja rasanya jengah. Seperti memegang kaktus, banyak duri di sana yang bisa membuat saya berdarah. Kalau pertengkaran-pertengkaran sebelumnya membuat saya tergores, pertengkaran kali ini membuat luka menganga di hati saya. Susah sembuh dan terus berdarah.
Apa iya, hubungan kami ini masih ada harapan ya... Saya jadi ragu. Kemarin malam saya coba bicara lagi sama dia. Dia marah saya bilang buat dia keluarganya no. 1, saya no. 2. Dia bilang saya salah, dia hanya membela yang benar. Masalahnya yang menentukan benar atau salahnya kan dia. Since he was raised in his family, I bet his family's values will influence him more, right? And I will be the one who have to compromise most.
Contoh paling mudah, dia tidak menerima ungkapan hati saya, kalau saya tidak nyaman tinggal bersama keluarganya. Saya bilang ada gap kultur antara the way his family live their life with mine. And I do a lot of compromises to adjust with this new family. And guess what... He undermined it. Menurut dia saya mengada-ada. Please, you're my husband... Mendengarkan saja tidak bisa, tidak seperti kalau menyalahkan atau menunjuk-nunjuk kesalahan. Bagaimana saya merasa dia menempatkan saya di prioritas no. 1 ya?
Oh ya salah saya yang lain, I shouldn't put the blame on his family. In the end, it's just between me and him. If I don't feel I was listened and considered, I will find way to vent my dissapointment. His family is only my easy target, because targeting him will be too hurtful for us. Karena saya tidak mau benci sama dia, selama ini saya mengalihkan ke faktor luar. Sekarang sih sudah jelas. Masalahnya tidak ada di mana-mana. Masalahnya ada di antara kami berdua.
Saya sih belum tahu harus bagaimana. I just feel numb. Tapi satu hal yang pasti. Kalau, sekali lagi dia bilang cerai, apapun masalahnya, itu akan jadi kata terakhir yang saya dengar dari dia.
Dan itu membuat saya terluka begitu dalam...
Saya merasa masa kebersamaan kami mendadak tidak ada artinya lagi. Oh ya, saya juga baru sadar, janji di depan altar waktu pernikahan, buat dia cuma teks untuk upacara saja, bukan untuk diamalkan. Jadi mungkin bisa dibilang, pernikahan kami bercandaan. Buat apa yah waktu itu mata dia berkaca-kaca, kan semuanya cuma sandiwara...
Keesokan harinya setelah pertengkaran, kami duduk bersama membahas ini. Dan seperti biasanya, bicara dengan dia pasti penuh teriakan dan intimidasi. Saya sering merasa, bicara dengan dia tidak terlalu berguna. Kami sama-sama merasa tidak didengarkan dan dimengerti, pokonya melelahkan sekali...Yang ingin saya sampaikan pada dia adalah kalau dia merasa saya ini expendable, seperti karyawan yang bisa dia PHK sewaktu-waktu di saat dia merasa problem pernikahan terlalu berat, maka, kami punya visi yang berbeda tentang pernikahan. Pernikahan buat saya untuk selamanya, for better or worse. Saya tidak mau menikah dengan orang, yang selalu menempatkan kaki sebelahnya di luar pintu. Tidak ada rasa aman di situasi itu. Apa bedanya pernikahan dengan kontrak kerja kalau begitu. Saya tegaskan lagi, kalau dia tidak sevisi dengan saya, maka dia bukan orang yang saya cari untuk teman hidup saya. Lebih baik kami akhiri saja. Tidak hari ini, bulan depan tahun depan, akan meledak lagi, dengan rasa sakit yang lebih hebat pastinya.
Tapi dia bilang minta maaf telah menyakiti saya. Dia bilang akan bersama saya sampai tua.
Malam itu saya tidur dengan perasaan yang lebih baik. Tapi paginya saya bangun merasa bodoh sekali. Bisa-bisanya saya, selama 3 tahun ini begitu naif untuk percaya 100% pada dia. Being silly, talked about everything, consulted for every step I took... And he was so loving, as if the word divorced never crossed in his mind. Bahkan saya sudah menempatkan dia di atas keluarga saya, padahal buat dia, keluarganya ada di atas saya. Bodohnya saya, kalau dia bercerita tentang masa kecilnya yang tidak bahagia atau omongan orang tuanya yang membuat dia sedih dan marah, saya ikut berempati, ikut benci pada keluarganya. Padahal keluarganya tidak melakukan apapun pada saya. Ya, saya salah di sebelah sana. Being too emotionally involved! Ternyata orangnya mungkin cuma bisa bilang benci di mulut, keras di kelakuan, tapi punya hati yang tidak tegaan. Dan tebak waktu saya ikutan marah pada keluarganya, dan menunjukkan sikap tidak senang, siapa yang mengamuk? DIA, ternyata...
Yah, saya dua kali salah. Dan harga yang harus dibayar mahal harganya. Saya menyakiti diri sendiri, menyakit dia dia juga.
Yang sekarang terjadi adalah saya kehilangan semua kepercayaan pada dirinya. Dia juga bilang, tidak percaya lagi pada saya karena ternyata saya tidak suka keluarganya. 'Hello... gimana saya bisa suka sama keluarga lo, kalo elo sendiri, yang lahir dari mereka aja benci sama mereka? Gimana saya bisa hormat ke mama kamu, kalo yang kamu ceritakan adalah dia yang bertanggung jawab atas kehilangan kepercayaan diri kamu, dengan mengata-ngatai dan menyabeti kamu, waktu kamu kesulitan belajar dulu?'
Saya juga kehilangan rasa kedekatan saya pada dia. Bahkan menyentuh dia saja rasanya jengah. Seperti memegang kaktus, banyak duri di sana yang bisa membuat saya berdarah. Kalau pertengkaran-pertengkaran sebelumnya membuat saya tergores, pertengkaran kali ini membuat luka menganga di hati saya. Susah sembuh dan terus berdarah.
Apa iya, hubungan kami ini masih ada harapan ya... Saya jadi ragu. Kemarin malam saya coba bicara lagi sama dia. Dia marah saya bilang buat dia keluarganya no. 1, saya no. 2. Dia bilang saya salah, dia hanya membela yang benar. Masalahnya yang menentukan benar atau salahnya kan dia. Since he was raised in his family, I bet his family's values will influence him more, right? And I will be the one who have to compromise most.
Contoh paling mudah, dia tidak menerima ungkapan hati saya, kalau saya tidak nyaman tinggal bersama keluarganya. Saya bilang ada gap kultur antara the way his family live their life with mine. And I do a lot of compromises to adjust with this new family. And guess what... He undermined it. Menurut dia saya mengada-ada. Please, you're my husband... Mendengarkan saja tidak bisa, tidak seperti kalau menyalahkan atau menunjuk-nunjuk kesalahan. Bagaimana saya merasa dia menempatkan saya di prioritas no. 1 ya?
Oh ya salah saya yang lain, I shouldn't put the blame on his family. In the end, it's just between me and him. If I don't feel I was listened and considered, I will find way to vent my dissapointment. His family is only my easy target, because targeting him will be too hurtful for us. Karena saya tidak mau benci sama dia, selama ini saya mengalihkan ke faktor luar. Sekarang sih sudah jelas. Masalahnya tidak ada di mana-mana. Masalahnya ada di antara kami berdua.
Saya sih belum tahu harus bagaimana. I just feel numb. Tapi satu hal yang pasti. Kalau, sekali lagi dia bilang cerai, apapun masalahnya, itu akan jadi kata terakhir yang saya dengar dari dia.