Monday, November 16, 2009

Amnesia

Saya masih agak bete sih, belum sepenuhnya pulih dari deraan stress 2 minggu terakhir ini. Saya masih agak 'marah' ke orang-orang lain dan juga diri sendiri. Tapi yah mungkin benar yang dibilang pepatah, roda itu selalu berputar. Kalau sudah di titik terendah tak lama lagi pasti naik. Setelah superbete selama 2 minggu, akhirnya saya capek juga. Baru deh pikiran agak jernih. Baru deh timbul pertanyaan-pertanyaan yang lebih konstruktif, bukan destruktif.

Dengan pikiran yang lumayan jernih dan hati yang lebih lega, saya jadi ingat waktu saya SMA dulu. Waktu SMA kelas 1, saya sudah tahu kalau nantinya mau ambil jurusan seni rupa. Sementara saya benci sekali pelajaran eksak. Berarti masih 3 tahun lagi saya harus berhadapan dengan mata pelajaran yang selain saya benci juga akhirnya akan mubazir karena saya toh mau masuk seni rupa. Tapi saya saat itu, bisa sangat dewasa. Saya bertekad untuk melakukan yang terbaik. Suka atau tidak, toh tetap harus saya hadapi selama 3 tahun. Jadi tinggal saya pilih sendiri, mau menghadapinya dengan sebaik mungkin, atau cuek dan tidak peduli. Kalau saya melakukan yang terbaik, nothing to lose, anggap saja test terhadap diri sendiri. Tapi kalau cuek dan tidak peduli, bisa dipastikan saya akan menderita selama 3 tahun itu. Nilai saya akan jelek, saya tambah benci pada mata pelajaran itu, dan yang paling berat adalah rasa telah berkhianat kepada diri sendiri, karena tahu tidak melakukan yang terbaik.

Ingatan saya ke masa itu membuat saya sadar kalau selama ini saya cenderung memperhitungkan mengapa saya tidak memperoleh prestasi seperti dulu, tapi lupa mempertahankan karakter yang membuat saya bisa berprestasi. Dulu saya punya mental pantang menyerah, selalu mengusahakan yang terbaik untuk setiap tantangan. Beda sekali dengan sekarang, saya saat ini lebih sering menyalahkan orang lain ketimbang memperbaiki diri. Sibuk menyalahkan orang lain telah membuat saya terinjak-injak oleh problem saya sendiri yang akhirnya menggerus kesehatan batin saya.

Dulu saya juga punya sikap tidak peduli apa kata orang. Kalau saya mau sesutau, saya akan maju untuk mengambilnya. Seperti waktu papa bilang supaya saya tidak kerja ke Jakarta. Saya marah, saya protes, dan akhirnya saya bisa pergi. Kebalikannya dengan sekarang. Omongan papa, walaupun banyak benarnya, tidak saya filter lagi. Seperti kasus kemarin, saya mengambil nasihat orang lain, bulat-bulat, padahal yang dimintai nasihat tidak ada di tempat saya untuk mengalami kejadian harian saya.

Kekeliruan ini membuat saya berpikir, mungkin tanpa sadar, saya telah mengerdilkan diri saya sendiri selama beberapa tahun ini. Saya jadi kesepian, ketakutan, dan kehilangan semua kepercayaan diri saya. Saya terlalu melibatkan diri, berempati terlalu dalam ke masalah keluarga suami saya yang memang kekurangan rasa hormat dan dukungan satu sama lain. Pendeknya, saya terbawa atmosfer negatif keluarganya. Saya jadi lupa, siapa diri saya sebenarnya. Belum lagi suami saya yang cenderung pemaksa dan 'menjajah'. Saya harus terus memperkuat diri saya untuk lebih berani mengutarakan isi hati dan pikiran saya.

Jadi selama ini, saya memang mengalami amnesia kepribadian....