Thursday, July 9, 2009

Quit

My sister had just finished her relationship with her two years boyfriend. Her boyfriend chosen his independence to pursue his dream over a marriage to her. It's a pity I once thought they were so compatible, both in a hobby and the way they live this life. However, later I learnt that it's my sister was who gave more and more while her boyfriend took more and more. I never heard any sacrifices her boyfriend did for her, instead, I heard it was her who aligned her dream and life to his.

To be honest, I can't fully blame this selfish man... The first mistake my sister has made is she doesn't have any plan or vision how to build her own independent life. She once said to me, since her boyfriend was quite good at his job and was on his way to promotion abroad, she would love to quit her job to follow him and became a full time housewife. She was just simply planned her life around her relationship, a relationship that had no guarantee to last. Then, when the relationship is no longer exist, it was her whom's hurt worse than her boyfriend, who consistently being selfish to pursue his dream and demands other to follow him.

This man now flaunts about his relieving independence in the Facebook notes. Very insensitive. I thought he just doesn't respect my sister writing such a note in the site since my sister has an access to his note. It just like as if he is really happy to be freed. Long before this, I was quit annoyed by his notes who potrayed himself as a mature and positive person while I knew from my sister that actually he is totally an opposite an immature selfish person.

And here my sister again, made the second mistake. She shared her breakdown publicly in this site too. So in the site people can watch the crying-ruined-woman and the strong-positive-full-of-dream man. I thought it's a bad publicity for her. If she was my 'real' sister, I will said to her to get rid all the whines and cries, and start to plan her own life. No need to waste tears for a narcisstic guy like him (and ugly, too :P)

But she is not my real sister. She is living in a family where what the people say is very important. Her family style is literally digest what people say and assume that what they hear is the truth. It's very naive since many people just say and think differently. So it's very important for her to hear good supporting words in her public account, though it means his boyfriend has an access to her downslide.

It's sad, I sympathize with her. But it's totally unwise and not an elegant way to quit.

Keajaiban dalam Doa

Sebagai manusia, kita sering merasa kecewa dan putus pengharapan karena masalah dan ujian yang bertubi-tubi dalam hidup kita. Kita merasa tidak berdaya dan ketidakberdayaan itu membuat kita juga 'marah' pada Tuhan. Kita menyalahkan Dia karena 'meninggalkan' kita sehingga kita harus mengalami penderitaan yang membuat kita sedih dan susah.

Hal seperti inilah yang terjadi pada saya. Saya 'marah' pada Dia karena saya menilai hidup saya sekarang saya nilai jauh dari harapan saya. Saya melampiaskan marah saya itu dengan malas berdoa pada dia. Saya pikir berhari-hari tidak berdoa tidak akan ada efeknya. Memangnya apa yang sudah Dia beri pada saya? Toh hidup saya begini-begini saja. Tidak ada bedanya berdoa atau tidak berdoa.

Hingga kemarin, saya memperoleh hari yang cukup buruk karena seseorang. Saya sangat alergi pada orang yang logikanya mati, agresif, dan suka berteriak-teriak. Bicara dengan orang seperti itu sama saja berbicara dengan tembok. BIasanya saya jauhi orang-orang seperti itu. Sayangnya orang ini adalah klien saya. Mau tak mau, saya harus melayani dia dengan segala kekurangannya itu. Seakan hari itu memang sudah ditakdirkan untuk terus menjadi gelap, kekesalan saya pada klien itu ditambah lagi dengan kelakuan suami. Bukannya menjadi pendengar dan pendukung yang baik, dia malah sibuk mengkritik saya, tentang bagaimana saya salah dalam bersikap kepada dia sehingga klien tersebut berkelakuan demikian pada saya. Seakan mengkritik saja belum cukup, dia menambahkan dengan konfrontasi hal-hal lain.

Saat itu ucapan dia sangat melukai hati saya. Saya jadi berpikir kepada siapa saya harus mengadu kalau suami sendiri saja ikut memarahi. Jadi saya pendam semua dalam hati, mencoba menenangkan diri. Saya terus mencoba untuk berpikir rasional, kalau semua hanya urusan bisnis, tidak ada yang personal. Saya juga meredam emosi saya dengan mencoba mengerti kelakuan suami saya itu, yang memang di keluarganya tidak ada bahasa cinta kata-kata pendukung. Saya mencoba terus dan terus untuk tidak menangis karena sedih.

Tapi toh akhirnya air mata saya jatuh juga. Dada rasanya sesak sekali. Saya menangis di kamar mandi supaya tidak ada yang tahu. Saya pikir menangis itu lemah. Saya tidak mau dikritik lagi oleh suami kalau saya bodoh karena menangis akibat kelakuan klien saya itu. Dan karena kemarin sore saya harus meeting, saya usahakan menangis hanya sebentar supaya mata tidak bengkak. Sehabis tersedu-sedu, saya segera mandi untuk pergi meeting dengan klien itu.

Pulang dari meeting, saya sudah lebih tenang. Saya utarakan kepada suami saya kalau saya tidak suka dengan e-mail dari klien saya dan berpikir untuk membalasnya dengan kata-kata yang tidak enak juga. Tapi saya pikir ulang buat apa, toh saya sudah berencana untuk tidak berhubungan lagi dengan dia. Proyek saya ini yang terakhir. Tapi tanggapan dia lagi-lagi menyakiti saya. Dia bilang saya tidak bisa selamanya begitu, kadang-kadang harus mengajak bertengkar. Dan saya boleh menolak proyek itu kalau sudah punya banyak uang.

Jawaban dia membuat saya ingin menangis lagi. Buat saya kemarin, dia sedang tidak menjadi suami yang baik dengan segala kearoganannya itu. Jadi saya diam saja, malas sekali biacara pada dia. Sebenarnya saya bodoh juga, terus menerus berharap dia bisa jadi sandaran saya. Maksud saya, orang seperti itu, apa yang kamu harap dari orang yang tidak punya empati?

Akhirnya saya berdoa, sebelum tidur, minta Tuhan angkat semua beban saya. Saya tidak tahu bagaimana caranya. Saya hanya menyerahkan diri pada Dia, minta tolong sentuhan-Nya supaya saya ditenangkan. Saya kemudian mencoba tidur, dengan mata basah dan pikiran kalut. Mendadak saja pikiran saya seperti dibelokan ke arah lain. Saya jadi memikirkan bagaimana pekerjaan-pekerjaan saya lainnya bisa diselesaikan. Di kepala saya banyak ide, tentang langkah-langkah yang harus diambil. Saya jadi lebih bersemangat, dan rasa sedih di dada hilang begitu saja. Rasanya mendadak enteng sekali. Padahal seharian saya mencoba dengan kekuatan sendiri dan saya tidak bisa. Tuhan telah menurunkan berkat-Nya atas saya, Berkat Penyembuhan.

Hari ini lagi-lagi Tuhan menunjukkan pendampingan-Nya. Hari ini saya kerja ke daerah Kota. Saya selesai kerja jam 6 sore, saat orang-orang pulang kantor. Hari ini hari Jumat pula, dimana para karyawan kantor bersiap untuk bersenang-senang setelah lima hari kerja. Bawaan saya cukup banyak dan berharga pula. Ada laptop, external hardisk, dan barang-barang berharga lain. Saya pikir pasti susah sekali mencari taxi. Biasanya saya paling malas meminta tolong. Tapi hari ini saya seperti digerakkan untuk bertanya ke partner kerja saya di Kota itu di mana tempat paling mudah mencari taxi. Dia menunjukkan arah yang saya tidak tahu di mana itu. Saya sudah berpikir untuk nanti saja saya cari bagaimanapun caranya. Dalam hati saya berdoa, tolong Tuhan mudahkan saya untuk memperolah taxi. Ternyata partner kerja saya itu malah berbaik hati mengantarkan saya ke tempat strategis untuk mencari taxi, bahkan mencegatkan taxi untuk saya. Hanya dalam waktu 5 menit saya sudah memperoleh taxi Bluebird.

Kedua kejadian tersebut adalah keajaiban kecil yang membuat saya terharu sekaligus menyadarkan saya. Ternyata Tuhan mendengarkan doa saya. Sayalah yang seringkali tidak percaya kekuatan doa. Tidak yakin kalau doa saya akan dijawab. Sebelum berdoa sudah berpikir, 'yah mungkin dikabulkan, mungkin tidak, kalau Tuhan sedang mau saja mengabulkan'. Padahal Tuhan akan mengabulkan, kalau kita yakin dan berserah. Sayalah yang harus percaya adanya keajaiban dalam doa yang penuh iman.

Saya juga disadarkan akan berlimpahnya berkat di sekitar saya.Sayalah yang seringkali tidak cukup peka untuk mengenali berkat itu. Contohnya, suami saya. Saya bisa memilih untuk fokus pada kekurangpekaan dia dan ketidakmampuannya untuk berempati; atau memilih untuk fokus pada kebaikannya seperti menyiapkan saya makan pagi dan bekal untuk saya bawa pagi tadi, belaian dan pelukan di saat saya lelah bekerja, setumpuk seterikaaan yang dia ambil alih karena melihat saya sibuk. Dia juga tidak pernah mengeluh bangun pagi setiap Sabtu untuk mengantar saya, tidak sekalipun. Kalau partner kerja yang mengantarkan saya mencari taxi saja saya anggap baik sekali sehingga saya merasa perlu menceritakan hal itu pada suami saya, lantas apakah suami saya sendiri tak layak untuk mendapat pujian juga untuk kebaikannya setiap hari? Dia adalah berkat dalam hidup saya, sayalah yang terlalu angkuh untuk mengakui berkat itu karena saya menuntut Tuhan untuk memberikan berkat persis seperti gambaran ideal saya.

Padahal Tuhan lebih tahu apa yang baik menurut kita belum tentu terbaik buat kita. Hal positif atau negatif dalam hidup kita, semua sudah Tuhan atur, untuk menghasilkan racikan yang terbaik pada setiap individu. Hal baik terus menerus membuat kita tidak lagi bersyukur. Sementara hal buruk terus menerus juga akan membutakan mata akan cahaya. Mungkin hidup saya sekarang sedang ada di bawah. Tapi saya selalu yakin, semua ada tujuannya, semua ada maksudnya, dan saya tidak sendirian. Ada Tuhan di samping saya. Saya cuma perlu melakukan hal-hal yang harus saya lakukan dengan keyakinan besar, kalau Dia yang akan menangani sisanya.

Thanks My Dear God, to know you is my greatest blessing in my life.