Saturday, January 10, 2009

Lessons on My Birthday

Today is my birthday. Messages came to me from my cell and Facebook account, saying happy birthday. They are only simple messages, wishes me all the best for the coming year. But they are really meaningful, remind me that there are still people care for me. And I'm truly thankful for that.

I learn some lessons today. The first lesson came from my friend. This afternoon, she called me. When I told her that I've found my 30's is not as glamour as I imagined at 20's, she suggested me to list down my blessings for this year. She told me that by doing the same on her birthday had made her felt more grateful for all her achievements. It's funny, for the fact that during our college year, she's the one I supported. But now, she's the one who encourages me. God working miraculously through people around me. It's a good idea, indeed. I'll do the listing down later in this blog.

Around 8 PM, I celebrated my birthday with Hubby at Kiyadon, Grand Indonesia. It's just a simple dinner for two. Really enjoy it. We had a good talk like always, and accidentally, we overheard the conversation of people next to us who talked with a very loud voice about media planning such as signboard and billboard. So we learnt a little about it, accidentally hehe...

Before we go home, Hubby went to toilet. waited him near the escalator. From there I could see people went up to upper floor. I was at 8th floor. But then I saw the lowest escalator, it's so tiny, like a miniature compared to the one only one level lower. I just realized I was very far from the ground. What will happen if I fall? Sweat was all over my palm. I felt fear. Couldn't stand the feeling, I stay away from my previous place, looking for a safer place.

And here's come the second lesson... I didn't feel fear at the first time because I chose my focus, to enjoy the sight and thing I like. But when I moved my focus to something that scared me, I started to imagine the worst thing that could happen. While actually the worst thing never happened, the fear has crippled me, made me unable to enjoy anything, even to realize that me, was on the safe ground.

It's just like facing the problem. When we tend to find a solution, it's the solution that appears. And when we see only trouble, the trouble indeed came to doom you because we're too clouded with fear that made us unable to see clearly.

Yep, I've learn my lesson, and funny, it came from unexpected sources :)

Wednesday, January 7, 2009

Searching for My Forte (Part 03)

I think I've found it. It's just in a process to bloom. When it does blooms, I'll be happy to celebrate the moment, pouring all my happiness here. Can't tell it now, but it's the reason I wake up every morning and why my heart keeps pounding excitedly.

Monday, January 5, 2009

Belajar daril Teman Kuliah

Kemarin saya ketawa-ketawa seharian dengan teman-teman kuliah di Eat& Eat, Mall Kelapa Gading.

Senang deh, karena kita udah lama ngga ketemu, jadi seru banget tukeran cerita masa kini juga haha hihi membicarakan kekonyolan masa lalu, jaman kita masih mahasiswa yang kemana-mana gendong ransel. Hubby yang menemani ikut tertawa-tawa di pinggir.

Temen saya, yang dulu paling deket waktu kuliah, sudah hamil 7 bulan. Ngomongnya udah ngos-ngosan karena perutnya buncit. Biasa liat dia langsing sekarang jadi agak berisi, yahhh, namanya juga calon mama. Dan dia calon mama yang cantik. Malah jadi tambah seger. Seneng deh liatnya. Lucunya ngga berkurang hehehe. Dengan logat jawa yang masih medok (tapi dulu sih lebih parah bledag bledug-nya), dengan serunya dia cerita kejadian-kejadian terkini di hidupnya plus kisah dengan calon mertua yang ngga selalu semanis madu.

Yang satunya, lagi pulang dari Singapore. Dia lagi berencana menata kembali hidupnya karena untuk pertama kalinya dia menemukan bidang yang bener-bener dia cinta, dan mau sekolah lagi buat mewujudkan mimpinya. Anak ini juga lucu kalo cerita, apalagi kalo lagi cerita tentang keponakannya yang masih imut-imut.

Dari Kelapa Gading, kita lanjut ke apartemen si ibu hamil di bilangan Kemayoran. Hubby dengan setia jadi pengantar kami. Untung Hubby saya orang yang luwes bergaul dan banyak tertawa, jadi selalu enak kalau diajak ketemu temen.

Di apartemen ini baru deh pembicaraan kami agak 'dewasa' dikit. Topiknya jadi seputar iman dan pengharapan. Yang banyak bicara sih mereka. Tapi saya menyimak mereka bercerita tentang hidupnya. Saya lebih suka jadi pendengar daripada pembicara. Karena dengan mendengar saya jadi belajar.

Mereka berdua adalah contoh orang yang berjuang hidup dari nol. Mereka ngga punya orang tua kaya raya yang menjatuhkan uang dari langit. Karena sudah kenal lama dengan mereka dan tau kisah perjuangannya, saya jadi kagum sama mereka. Mereka ini tipe fighter, dengan segala tantangan yang ada di muka, mereka tetap positif dan tetap yakin ada pengharapan di depan. Mereka sekarang ini juga ngga dalam kondisi kaya raya, ngga hidup hura-hura, tapi saya bisa melihat, mereka bahagia, berkecukupan dalam hidupnya.

Saya jadi kagum sama mereka. Soalnya belakangan ini, karena saya jarang keluar, saya cuma bergaul dengan keluarga Hubby. Keluarga Hubby baik, tapi mereka kurang memiliki pegangan dalam hidupnya. Jadi mereka cenderung untuk menjalani hidup apa adanya, hari demi hari, tanpa ada panduan prinsip hidup yang jelas. Yang penting buat mereka hanya uang, makan enak, dan bersenang-senang. Yah itu juga perlu sih kali-kali, tapi kalau sampai tiap hari, ngga bener juga kali ya...

Dan kalau hidup yang penting cuma uang, apa yang terjadi kalau uang hilang? Ini refleksi, untuk mengoreksi diri, karena itulah yang saya alamin di tahun 2008. Saya berjuang mati-matian buat uang, semua saya korbankan: sosialisasi, pencarian jati diri, aktivitas pribadi, keluarga, teman... Lihat apa yang saya dapat di saat uang saya hilang di saham... tahun yang kering kerontang tanpa pencerahan yang betul-betul bermakna, selain di bidang bisnis.

Pendeknya, saya melihat teman-teman saya bahagia karena mereka punya pegangan. Pegangan itu adalah keimanan mereka akan Tuhan. Mereka punya iman, kalau Tuhan pasti selalu ada untuk mereka, no matter what. Teman saya yang di Singapore ini malah baru-baru ini memperoleh pencerahannya. Dari sekedar menjalankan agamanya, Katolik, sebatas ritual saja, menjadi agama yang datang dari hati, diresapi setiap maknanya.

Lain lagi dengan si ibu hamil, yang saya kagumi dari dulu karena kekuatan karakternya. Saya tau dia sudah melembut dan jadi orang yang luar biasa sejak dia menikah dan tinggal di Jakarta. Dulu dia orang yang keras. Tapi sekarang saya yakin, dia teman yang baik. Dan akan jadi mama yang baik juga.

Dari pertemuan dengan mereka, saya merasa mendapatkan kekuatan yang besar, seolah-olah Tuhan membebaskan saya dari segala ketakutan yang sangat manusiawi. Saya terlalu mengukur segala sesuatu dari kekuatan manusia. Saya lupa, bahkan tahun 2008 ini telah berlalu dengan banyak bukti tangan Tuhan yang bekerja. Kalau di awal tahun ini saya dibilangin bisa menghasilkan omzet sebesar itu, saya pasti bakal menertawakan orang yang berani ngomong itu. Tapi Tuhan sungguh murah hati, everything has happened miraculously.

Sekarang ini saya bahagia dan tenang, bukan karena tabungan saya bertambah banyak, tapi karena saya sadar, yang menentukan kebahagiaan bukan berapa banyak angka di account saya, tapi apakah saya mau menyerahkan hidup saya di tangan-Nya, dengan percaya. Manusia hanya bisa berusaha, Tuhan yang menentukan. Dan saya percaya, again, God will be with us through this 2009.

Renungan di Bandung

Ahhh senangnya liburan di Bandung deket Papa Mama dan adik-adik. Biarpun cuma 'mejeng' di rumah, kali-kali aja keluar makan makan, main Nintendo DS kaya anak kecil (game Cooking Mama), kepala ini jadi lebih enteng, seperti banyak beban terlepaskan dan benang-benang kusut keriting terurai.

Sepuluh hari mengambil jarak dari desain. Sepuluh hari ngga usah memusingkan layout dan tipografi. Dan mengambil jarak dari sesuatu yang dikerjakan tiap hari seperti dikejar-kejar bener-bener membuat saya jadi lebih mengerti sebenarnya apa keinginan saya. Saya baru sadar, kalo saya itu terlalu cinta pekerjaan saya yang ujung-ujungnya susah melepaskan. Dan seperti biasanya, segala sesuatu yang ekstrim selalu ngga bagus, biarpun itu atas nama cinta. Kemelekatan itu bikin saya sengsara. Saya jadi delegator yang buruk karena tak bisa mempercayakan kerjaan kepada siapapun, bahkan mungkin orang yang lebih jago dari saya!

Dan dalam renungan itu kemudian saya berpikir, saya ngga mau terkurung pekerjaan saya sendiri. Secinta-cintanya saya sama desain, saya lebih cinta diri saya sendiri, manusia yang seharusnya bisa hidup layak di dunia ini. Saya berhak untuk bersosialisasi dan menikmati waktu santai, berkumpul dengan keluarga, dan juga melakukan hal yang saya suka, ngga melulu terkungkung dalam tugas demi tugas. Lagian, toh sudah saya coba sendiri, berapa sih kapasitas saya, sekeras-kerasnya berusaha? Angka omzet 2008 sudah keluar, yang biarpun angkanya menggembirakan, tapi saya tau, itu sudah mentok, ngga akan naik lagi kecuali saya mengubah metode bisnis saya.

Lucunya secara kebetulan, temen Papa yang jago bisnis telepon ke rumah saya di Bandung. Maksudnya sih mau bicara dengan Papa, tapi malah kami jadi ngobrol. Usia Oom ini sih sama seperti Papa, tapi jiwa bisnisnya masih menyala-nyala, ngga kalah kaya orang muda. Idenya banyak banget, ditanya tentang bidang bisnis mana saja dia tau, termasuk desain grafis, bidang saya.

Di sela-sela pembicaraan dia nasihatin, supaya saya jangan menjalankan bisnis dengan cara one man show. 'Berapa sih yang bisa dihasilkan oleh satu orang? Mendingan serahkan saja ke yang memang sudah bidangnya. Lebih cepat, lebih efisien, dan up-to-date', katanya

Dia juga menasihati, kalau saya mau klien saya nempel, ada 4 kualitas yang perlu saya jaga:
1. Harga yang 'murah' di kelasnya
2. Kualitas yang baik
3. Waktu pengerjaan yang cepat dan efisien
4. Servis setelah penjualan terjadi.


Ya, sarannya sesimple itu... Kedengeran klise, tapi kalau dikerjain, emang pasti klien nempel. Dan ngerjainnya ngga gampang loh, yang pasti emang ngga mungkin bisa one man show.

DAN... saya akhirnya memutuskan, saya WAJIB percaya sama orang lain. WAJIB mendelegasikan pekerjaan. WAJIB untuk tidak jadi terlalu perfeksionis, kalau ngga mau sengsara terus menerus. Saya sudah memutuskan untuk melepaskan sebagian idealisme desainer saya supaya bisnis ini bisa jalan, ngga cuma diam di tempat. Pendeknya, saya akhirnya pasrah untuk melepaskan atribut desainer saya untuk jadi setengah desainer, setengah pengusaha. Sulit loh, karena seringkali antara kualitas dan harga bentrok saling menjatuhkan.

Tapi saya akan berusaha. Saya yakin, Tuhan yang kirim dia untuk membantu membeningkan pikiran saya.