Wednesday, December 8, 2010

Bad bad, morning thought

Baru sadar kalau design saya sekarang jadi terlalu complicated mengarah ke over designed. Mungkin menggambarkan suasana hati saya yang sudah jarang bisa tenang dan terinspirasi karena banyaknya urusan yang perlu diselesaikan dan tidak bisa diselesaikan :(

Hari ini bangun dengan perasaan yang sangat-sangat tidak enak. Dan seperti biasa, ditambah suara orang-orang yang kalau ngomong seperti ada kebakaran.

Pengen teriak sekencang-kencangnya, keluarin semua, kalau aja ada tanah lapang...

Have to learn to make my life much more simpler.

Thursday, December 2, 2010

Tentang Suami Istri

Tadi pagi saya telepon teman saya kuliah saya, yang juga sudah menikah. Dari urusan kerjaan, jadi bicara tentang hubungan sama suami. Ternyata kami baru saja sama-sama ribut besar sama suami. Lucunya waktu dia cerita, saya merasa ada mirip-miripnya dengan cerita saya, Jadi mikir, apa iya semua topik pertengkaran pasangan baru menikah berputar di itu-itu saja yah, tak jauh-jauh dari urusan: uang, waktu pribadi, dan pembagian tanggung jawab. Sepertinya dua orang bersatu atas nama cinta sehidup dan semati jadi komitmen yang terlalu naif, mengingat banyak dan beratnya rintangan untuk bisa hidup bersama dengan damai dan toleransi. Kalau saja yang namanya manusia bisa melihat masa depan, wah ngga jamin deh bisa banyak orang yang mau menikah.

Wednesday, December 1, 2010

Expendable

Tiga hari kemarin, saya dan dia bertengkar hebat. Penyebabnya, lagi-lagi keluarganya, setidaknya menurut versi saya... Saya tidak suka, jam kerja kami diganggu oleh urusan antar jemput bandara, yang sebenarnya bisa dikerjakan oleh orang lain. Dia marah sekali. Bilang saya tidak ada hak untuk melarang dia. Pekerjaan kantor sudah selesai sebagian, sisanya bisa diatur. Saya bilang alasannya. Buat apa dia peduli pada keluarga yang tidak mempedulikan dia. Dan dari mulutnya keluar kata-kata: 'sayang dan kewajiban' untuk keluarganya, walaupun dia tahu dia tidak diperlakukan dengan baik. Saya akui saya ada salah. Saya benci mamanya, yang kalau minta dia pergi mengantar atau menjemput ke bandara, tidak pernah bertanya dulu, apakah kami sempat atau tidak, tapi main langsung perintah. Saya kelepasan, bilang mamanya tidak punya otak. Amarahnya langsung terbakar, gelap mata, tidak peduli lagi saya siapa. Dia bilang, pernikahan kami baru seumur jagung. Kalau saya tidak suka keluarganya, saya boleh angkat kaki. Itu diucapkannya dengan mudah, seperti bilang, 'saya mau ke pasar'.

Dan itu membuat saya terluka begitu dalam...

Saya merasa masa kebersamaan kami mendadak tidak ada artinya lagi. Oh ya, saya juga baru sadar, janji di depan altar waktu pernikahan, buat dia cuma teks untuk upacara saja, bukan untuk diamalkan. Jadi mungkin bisa dibilang, pernikahan kami bercandaan. Buat apa yah waktu itu mata dia berkaca-kaca, kan semuanya cuma sandiwara...

Keesokan harinya setelah pertengkaran, kami duduk bersama membahas ini. Dan seperti biasanya, bicara dengan dia pasti penuh teriakan dan intimidasi. Saya sering merasa, bicara dengan dia tidak terlalu berguna. Kami sama-sama merasa tidak didengarkan dan dimengerti, pokonya melelahkan sekali...Yang ingin saya sampaikan pada dia adalah kalau dia merasa saya ini expendable, seperti karyawan yang bisa dia PHK sewaktu-waktu di saat dia merasa problem pernikahan terlalu berat, maka, kami punya visi yang berbeda tentang pernikahan. Pernikahan buat saya untuk selamanya, for better or worse. Saya tidak mau menikah dengan orang, yang selalu menempatkan kaki sebelahnya di luar pintu. Tidak ada rasa aman di situasi itu. Apa bedanya pernikahan dengan kontrak kerja kalau begitu. Saya tegaskan lagi, kalau dia tidak sevisi dengan saya, maka dia bukan orang yang saya cari untuk teman hidup saya. Lebih baik kami akhiri saja. Tidak hari ini, bulan depan tahun depan, akan meledak lagi, dengan rasa sakit yang lebih hebat pastinya.

Tapi dia bilang minta maaf telah menyakiti saya. Dia bilang akan bersama saya sampai tua.

Malam itu saya tidur dengan perasaan yang lebih baik. Tapi paginya saya bangun merasa bodoh sekali. Bisa-bisanya saya, selama 3 tahun ini begitu naif untuk percaya 100% pada dia. Being silly, talked about everything, consulted for every step I took... And he was so loving, as if the word divorced never crossed in his mind. Bahkan saya sudah menempatkan dia di atas keluarga saya, padahal buat dia, keluarganya ada di atas saya. Bodohnya saya, kalau dia bercerita tentang masa kecilnya yang tidak bahagia atau omongan orang tuanya yang membuat dia sedih dan marah, saya ikut berempati, ikut benci pada keluarganya. Padahal keluarganya tidak melakukan apapun pada saya. Ya, saya salah di sebelah sana. Being too emotionally involved! Ternyata orangnya mungkin cuma bisa bilang benci di mulut, keras di kelakuan, tapi punya hati yang tidak tegaan. Dan tebak waktu saya ikutan marah pada keluarganya, dan menunjukkan sikap tidak senang, siapa yang mengamuk? DIA, ternyata...

Yah, saya dua kali salah. Dan harga yang harus dibayar mahal harganya. Saya menyakiti diri sendiri, menyakit dia dia juga.

Yang sekarang terjadi adalah saya kehilangan semua kepercayaan pada dirinya. Dia juga bilang, tidak percaya lagi pada saya karena ternyata saya tidak suka keluarganya. 'Hello... gimana saya bisa suka sama keluarga lo, kalo elo sendiri, yang lahir dari mereka aja benci sama mereka? Gimana saya bisa hormat ke mama kamu, kalo yang kamu ceritakan adalah dia yang bertanggung jawab atas kehilangan kepercayaan diri kamu, dengan mengata-ngatai dan menyabeti kamu, waktu kamu kesulitan belajar dulu?'

Saya juga kehilangan rasa kedekatan saya pada dia. Bahkan menyentuh dia saja rasanya jengah. Seperti memegang kaktus, banyak duri di sana yang bisa membuat saya berdarah. Kalau pertengkaran-pertengkaran sebelumnya membuat saya tergores, pertengkaran kali ini membuat luka menganga di hati saya. Susah sembuh dan terus berdarah.

Apa iya, hubungan kami ini masih ada harapan ya... Saya jadi ragu. Kemarin malam saya coba bicara lagi sama dia. Dia marah saya bilang buat dia keluarganya no. 1, saya no. 2. Dia bilang saya salah, dia hanya membela yang benar. Masalahnya yang menentukan benar atau salahnya kan dia. Since he was raised in his family, I bet his family's values will influence him more, right? And I will be the one who have to compromise most.

Contoh paling mudah, dia tidak menerima ungkapan hati saya, kalau saya tidak nyaman tinggal bersama keluarganya. Saya bilang ada gap kultur antara the way his family live their life with mine. And I do a lot of compromises to adjust with this new family. And guess what... He undermined it. Menurut dia saya mengada-ada. Please, you're my husband... Mendengarkan saja tidak bisa, tidak seperti kalau menyalahkan atau menunjuk-nunjuk kesalahan. Bagaimana saya merasa dia menempatkan saya di prioritas no. 1 ya?

Oh ya salah saya yang lain, I shouldn't put the blame on his family. In the end, it's just between me and him. If I don't feel I was listened and considered, I will find way to vent my dissapointment. His family is only my easy target, because targeting him will be too hurtful for us. Karena saya tidak mau benci sama dia, selama ini saya mengalihkan ke faktor luar. Sekarang sih sudah jelas. Masalahnya tidak ada di mana-mana. Masalahnya ada di antara kami berdua.

Saya sih belum tahu harus bagaimana. I just feel numb. Tapi satu hal yang pasti. Kalau, sekali lagi dia bilang cerai, apapun masalahnya, itu akan jadi kata terakhir yang saya dengar dari dia.

Monday, December 28, 2009

Ugly Duckling

She said that if buying new shoes, new jeans, and holiday trip can make her happy, then it's worthy done. And this is the situation: her shoes collections already conquered 80% of the shoes rooms. She just bought a pair of new jeans just few weeks before. And she's also just back from a holiday trip about a month ago. Splurge, splurge, and splurge, it's the way she run her life.

If only the her parents don't think that she's the swan while her brother aka. my husband the ugly duckling, I won't bother her habit, really. The fact that they think their obnoxious big spender daughter is so perfect and their responsible thoughtful son is worthless makes me sick. Like my husband always said, in the end, it's not how much you earn, it's how much you've saved.

Now I know why I can't connect to her and her family. We have very different ways of life.

Monday, November 16, 2009

Amnesia

Saya masih agak bete sih, belum sepenuhnya pulih dari deraan stress 2 minggu terakhir ini. Saya masih agak 'marah' ke orang-orang lain dan juga diri sendiri. Tapi yah mungkin benar yang dibilang pepatah, roda itu selalu berputar. Kalau sudah di titik terendah tak lama lagi pasti naik. Setelah superbete selama 2 minggu, akhirnya saya capek juga. Baru deh pikiran agak jernih. Baru deh timbul pertanyaan-pertanyaan yang lebih konstruktif, bukan destruktif.

Dengan pikiran yang lumayan jernih dan hati yang lebih lega, saya jadi ingat waktu saya SMA dulu. Waktu SMA kelas 1, saya sudah tahu kalau nantinya mau ambil jurusan seni rupa. Sementara saya benci sekali pelajaran eksak. Berarti masih 3 tahun lagi saya harus berhadapan dengan mata pelajaran yang selain saya benci juga akhirnya akan mubazir karena saya toh mau masuk seni rupa. Tapi saya saat itu, bisa sangat dewasa. Saya bertekad untuk melakukan yang terbaik. Suka atau tidak, toh tetap harus saya hadapi selama 3 tahun. Jadi tinggal saya pilih sendiri, mau menghadapinya dengan sebaik mungkin, atau cuek dan tidak peduli. Kalau saya melakukan yang terbaik, nothing to lose, anggap saja test terhadap diri sendiri. Tapi kalau cuek dan tidak peduli, bisa dipastikan saya akan menderita selama 3 tahun itu. Nilai saya akan jelek, saya tambah benci pada mata pelajaran itu, dan yang paling berat adalah rasa telah berkhianat kepada diri sendiri, karena tahu tidak melakukan yang terbaik.

Ingatan saya ke masa itu membuat saya sadar kalau selama ini saya cenderung memperhitungkan mengapa saya tidak memperoleh prestasi seperti dulu, tapi lupa mempertahankan karakter yang membuat saya bisa berprestasi. Dulu saya punya mental pantang menyerah, selalu mengusahakan yang terbaik untuk setiap tantangan. Beda sekali dengan sekarang, saya saat ini lebih sering menyalahkan orang lain ketimbang memperbaiki diri. Sibuk menyalahkan orang lain telah membuat saya terinjak-injak oleh problem saya sendiri yang akhirnya menggerus kesehatan batin saya.

Dulu saya juga punya sikap tidak peduli apa kata orang. Kalau saya mau sesutau, saya akan maju untuk mengambilnya. Seperti waktu papa bilang supaya saya tidak kerja ke Jakarta. Saya marah, saya protes, dan akhirnya saya bisa pergi. Kebalikannya dengan sekarang. Omongan papa, walaupun banyak benarnya, tidak saya filter lagi. Seperti kasus kemarin, saya mengambil nasihat orang lain, bulat-bulat, padahal yang dimintai nasihat tidak ada di tempat saya untuk mengalami kejadian harian saya.

Kekeliruan ini membuat saya berpikir, mungkin tanpa sadar, saya telah mengerdilkan diri saya sendiri selama beberapa tahun ini. Saya jadi kesepian, ketakutan, dan kehilangan semua kepercayaan diri saya. Saya terlalu melibatkan diri, berempati terlalu dalam ke masalah keluarga suami saya yang memang kekurangan rasa hormat dan dukungan satu sama lain. Pendeknya, saya terbawa atmosfer negatif keluarganya. Saya jadi lupa, siapa diri saya sebenarnya. Belum lagi suami saya yang cenderung pemaksa dan 'menjajah'. Saya harus terus memperkuat diri saya untuk lebih berani mengutarakan isi hati dan pikiran saya.

Jadi selama ini, saya memang mengalami amnesia kepribadian....

Tuesday, August 18, 2009

In Working

Once my client who is a wedding photographer, said to me this, 'My clients usually become my friends. It's our way of doing business.' I nodded, agreed with what he said. I love to befriend with my clients, usually a nice and friendly client like him, whose presence only can brighten the day. Who doesn't want to be liked by anyone? Beside that, pasrt of me doesn't like conflict. Being in conflict with anyone is a thing I usually avoid at any cost.

The agreeable nodding girl is me, about 3 years ago, before starting my own business. Three years in running this business, I learnt a totally different rules from the friendship rules. You can't be simply too close, to nice, too care, or even too helpful to your client. While in friendship it's great to give more, it will backfire you when applied to business. Because sooner or later, there some clients who assume your good will as a weakness. And they will happily exploit it!

I have these two clients whom I lost my respect and sympathy totally. The first one, a woman, has a very bad attitude and disorganized project planning that it's almost impossible to communicate as civilized human with her. She always insist others to understand her, to follow her deadline, and to sympathize with her problems but lack the ability and good will to work as a team in handle the matters. At the beginning of our project, I naively helpful to her, being a good listener to her problem, and always available (even till midnight!), to help her catch the tight deadline caused by her bad management. But all of them didn't make her respect us. It just made her think us were easily exploited. She spared a convenient time for other team members (who disdained her, even scolded her) and only spare a very tight time for us to catch up the deadline. And she scolded us when we said we need more time. That's why we learnt our first lesson. Sometimes it's better not being nice to your client.

The second one is a spoil whining girl trapped in the body of 50 something man. Actually he's a successful businessman. He complimented us for being proactive and punctual. We tried our best to help him with all we've got. We even help him correct his spelling that's not our responsibility. But at one point he got stressed out because we kept remind him up about the deadline. Suddenly he becomes so sensitive on matters that only cared by woman who gets PMS. He said we pushed him too much. He's also accused us for things that's not our responsibility, said that because we didn't help him, he must works hard to finish the materials. Our biggest regret is we give him a way too cheap design fee (our friend who introduce us asked a favour to give him the good price). So the second lesson is it's better not being generous to client. It's better to give as little as possible first, so you have a back up resources later to give, IF necessary.

Lately I also promises to myself to separate my work to my life. The works kept coming but my life can't be turned back. In these latest 3 months I worked like crazy and unconsciously neglected my husband, my family, my friend, even myself. I felt my life is become all works and never plays. I even forget what has happened in the last 3 months because my life was so routine, that everyday all looks the same. What if I was to die tomorrow? I must regret for I've done nothing meaningful enough to memorize.

So, these are just little steps to achieve the bigger goal, keeping the balance in my life. But I hope in a long time, it will help me a lot to maintain my sanity. Here's my new rules on working:

1. My working time is 9.00-6.00. Phone and sms before and after won't be replied.

2. Saturday and Sunday are holiday. Time for me, family, and friend. No phone and sms from client will be replied.

3. Being too nice and too helpful to clients is stupid. Giving as little as possible. So it's easier to give them favour later.

4. Sometimes being a little bit dumb and numb is good.

5. To ask a fair price and downpayment before working.

Thursday, July 9, 2009

Quit

My sister had just finished her relationship with her two years boyfriend. Her boyfriend chosen his independence to pursue his dream over a marriage to her. It's a pity I once thought they were so compatible, both in a hobby and the way they live this life. However, later I learnt that it's my sister was who gave more and more while her boyfriend took more and more. I never heard any sacrifices her boyfriend did for her, instead, I heard it was her who aligned her dream and life to his.

To be honest, I can't fully blame this selfish man... The first mistake my sister has made is she doesn't have any plan or vision how to build her own independent life. She once said to me, since her boyfriend was quite good at his job and was on his way to promotion abroad, she would love to quit her job to follow him and became a full time housewife. She was just simply planned her life around her relationship, a relationship that had no guarantee to last. Then, when the relationship is no longer exist, it was her whom's hurt worse than her boyfriend, who consistently being selfish to pursue his dream and demands other to follow him.

This man now flaunts about his relieving independence in the Facebook notes. Very insensitive. I thought he just doesn't respect my sister writing such a note in the site since my sister has an access to his note. It just like as if he is really happy to be freed. Long before this, I was quit annoyed by his notes who potrayed himself as a mature and positive person while I knew from my sister that actually he is totally an opposite an immature selfish person.

And here my sister again, made the second mistake. She shared her breakdown publicly in this site too. So in the site people can watch the crying-ruined-woman and the strong-positive-full-of-dream man. I thought it's a bad publicity for her. If she was my 'real' sister, I will said to her to get rid all the whines and cries, and start to plan her own life. No need to waste tears for a narcisstic guy like him (and ugly, too :P)

But she is not my real sister. She is living in a family where what the people say is very important. Her family style is literally digest what people say and assume that what they hear is the truth. It's very naive since many people just say and think differently. So it's very important for her to hear good supporting words in her public account, though it means his boyfriend has an access to her downslide.

It's sad, I sympathize with her. But it's totally unwise and not an elegant way to quit.

Keajaiban dalam Doa

Sebagai manusia, kita sering merasa kecewa dan putus pengharapan karena masalah dan ujian yang bertubi-tubi dalam hidup kita. Kita merasa tidak berdaya dan ketidakberdayaan itu membuat kita juga 'marah' pada Tuhan. Kita menyalahkan Dia karena 'meninggalkan' kita sehingga kita harus mengalami penderitaan yang membuat kita sedih dan susah.

Hal seperti inilah yang terjadi pada saya. Saya 'marah' pada Dia karena saya menilai hidup saya sekarang saya nilai jauh dari harapan saya. Saya melampiaskan marah saya itu dengan malas berdoa pada dia. Saya pikir berhari-hari tidak berdoa tidak akan ada efeknya. Memangnya apa yang sudah Dia beri pada saya? Toh hidup saya begini-begini saja. Tidak ada bedanya berdoa atau tidak berdoa.

Hingga kemarin, saya memperoleh hari yang cukup buruk karena seseorang. Saya sangat alergi pada orang yang logikanya mati, agresif, dan suka berteriak-teriak. Bicara dengan orang seperti itu sama saja berbicara dengan tembok. BIasanya saya jauhi orang-orang seperti itu. Sayangnya orang ini adalah klien saya. Mau tak mau, saya harus melayani dia dengan segala kekurangannya itu. Seakan hari itu memang sudah ditakdirkan untuk terus menjadi gelap, kekesalan saya pada klien itu ditambah lagi dengan kelakuan suami. Bukannya menjadi pendengar dan pendukung yang baik, dia malah sibuk mengkritik saya, tentang bagaimana saya salah dalam bersikap kepada dia sehingga klien tersebut berkelakuan demikian pada saya. Seakan mengkritik saja belum cukup, dia menambahkan dengan konfrontasi hal-hal lain.

Saat itu ucapan dia sangat melukai hati saya. Saya jadi berpikir kepada siapa saya harus mengadu kalau suami sendiri saja ikut memarahi. Jadi saya pendam semua dalam hati, mencoba menenangkan diri. Saya terus mencoba untuk berpikir rasional, kalau semua hanya urusan bisnis, tidak ada yang personal. Saya juga meredam emosi saya dengan mencoba mengerti kelakuan suami saya itu, yang memang di keluarganya tidak ada bahasa cinta kata-kata pendukung. Saya mencoba terus dan terus untuk tidak menangis karena sedih.

Tapi toh akhirnya air mata saya jatuh juga. Dada rasanya sesak sekali. Saya menangis di kamar mandi supaya tidak ada yang tahu. Saya pikir menangis itu lemah. Saya tidak mau dikritik lagi oleh suami kalau saya bodoh karena menangis akibat kelakuan klien saya itu. Dan karena kemarin sore saya harus meeting, saya usahakan menangis hanya sebentar supaya mata tidak bengkak. Sehabis tersedu-sedu, saya segera mandi untuk pergi meeting dengan klien itu.

Pulang dari meeting, saya sudah lebih tenang. Saya utarakan kepada suami saya kalau saya tidak suka dengan e-mail dari klien saya dan berpikir untuk membalasnya dengan kata-kata yang tidak enak juga. Tapi saya pikir ulang buat apa, toh saya sudah berencana untuk tidak berhubungan lagi dengan dia. Proyek saya ini yang terakhir. Tapi tanggapan dia lagi-lagi menyakiti saya. Dia bilang saya tidak bisa selamanya begitu, kadang-kadang harus mengajak bertengkar. Dan saya boleh menolak proyek itu kalau sudah punya banyak uang.

Jawaban dia membuat saya ingin menangis lagi. Buat saya kemarin, dia sedang tidak menjadi suami yang baik dengan segala kearoganannya itu. Jadi saya diam saja, malas sekali biacara pada dia. Sebenarnya saya bodoh juga, terus menerus berharap dia bisa jadi sandaran saya. Maksud saya, orang seperti itu, apa yang kamu harap dari orang yang tidak punya empati?

Akhirnya saya berdoa, sebelum tidur, minta Tuhan angkat semua beban saya. Saya tidak tahu bagaimana caranya. Saya hanya menyerahkan diri pada Dia, minta tolong sentuhan-Nya supaya saya ditenangkan. Saya kemudian mencoba tidur, dengan mata basah dan pikiran kalut. Mendadak saja pikiran saya seperti dibelokan ke arah lain. Saya jadi memikirkan bagaimana pekerjaan-pekerjaan saya lainnya bisa diselesaikan. Di kepala saya banyak ide, tentang langkah-langkah yang harus diambil. Saya jadi lebih bersemangat, dan rasa sedih di dada hilang begitu saja. Rasanya mendadak enteng sekali. Padahal seharian saya mencoba dengan kekuatan sendiri dan saya tidak bisa. Tuhan telah menurunkan berkat-Nya atas saya, Berkat Penyembuhan.

Hari ini lagi-lagi Tuhan menunjukkan pendampingan-Nya. Hari ini saya kerja ke daerah Kota. Saya selesai kerja jam 6 sore, saat orang-orang pulang kantor. Hari ini hari Jumat pula, dimana para karyawan kantor bersiap untuk bersenang-senang setelah lima hari kerja. Bawaan saya cukup banyak dan berharga pula. Ada laptop, external hardisk, dan barang-barang berharga lain. Saya pikir pasti susah sekali mencari taxi. Biasanya saya paling malas meminta tolong. Tapi hari ini saya seperti digerakkan untuk bertanya ke partner kerja saya di Kota itu di mana tempat paling mudah mencari taxi. Dia menunjukkan arah yang saya tidak tahu di mana itu. Saya sudah berpikir untuk nanti saja saya cari bagaimanapun caranya. Dalam hati saya berdoa, tolong Tuhan mudahkan saya untuk memperolah taxi. Ternyata partner kerja saya itu malah berbaik hati mengantarkan saya ke tempat strategis untuk mencari taxi, bahkan mencegatkan taxi untuk saya. Hanya dalam waktu 5 menit saya sudah memperoleh taxi Bluebird.

Kedua kejadian tersebut adalah keajaiban kecil yang membuat saya terharu sekaligus menyadarkan saya. Ternyata Tuhan mendengarkan doa saya. Sayalah yang seringkali tidak percaya kekuatan doa. Tidak yakin kalau doa saya akan dijawab. Sebelum berdoa sudah berpikir, 'yah mungkin dikabulkan, mungkin tidak, kalau Tuhan sedang mau saja mengabulkan'. Padahal Tuhan akan mengabulkan, kalau kita yakin dan berserah. Sayalah yang harus percaya adanya keajaiban dalam doa yang penuh iman.

Saya juga disadarkan akan berlimpahnya berkat di sekitar saya.Sayalah yang seringkali tidak cukup peka untuk mengenali berkat itu. Contohnya, suami saya. Saya bisa memilih untuk fokus pada kekurangpekaan dia dan ketidakmampuannya untuk berempati; atau memilih untuk fokus pada kebaikannya seperti menyiapkan saya makan pagi dan bekal untuk saya bawa pagi tadi, belaian dan pelukan di saat saya lelah bekerja, setumpuk seterikaaan yang dia ambil alih karena melihat saya sibuk. Dia juga tidak pernah mengeluh bangun pagi setiap Sabtu untuk mengantar saya, tidak sekalipun. Kalau partner kerja yang mengantarkan saya mencari taxi saja saya anggap baik sekali sehingga saya merasa perlu menceritakan hal itu pada suami saya, lantas apakah suami saya sendiri tak layak untuk mendapat pujian juga untuk kebaikannya setiap hari? Dia adalah berkat dalam hidup saya, sayalah yang terlalu angkuh untuk mengakui berkat itu karena saya menuntut Tuhan untuk memberikan berkat persis seperti gambaran ideal saya.

Padahal Tuhan lebih tahu apa yang baik menurut kita belum tentu terbaik buat kita. Hal positif atau negatif dalam hidup kita, semua sudah Tuhan atur, untuk menghasilkan racikan yang terbaik pada setiap individu. Hal baik terus menerus membuat kita tidak lagi bersyukur. Sementara hal buruk terus menerus juga akan membutakan mata akan cahaya. Mungkin hidup saya sekarang sedang ada di bawah. Tapi saya selalu yakin, semua ada tujuannya, semua ada maksudnya, dan saya tidak sendirian. Ada Tuhan di samping saya. Saya cuma perlu melakukan hal-hal yang harus saya lakukan dengan keyakinan besar, kalau Dia yang akan menangani sisanya.

Thanks My Dear God, to know you is my greatest blessing in my life.

Monday, June 22, 2009

Fatigue

Ngga biasanya nih badan lemes seharian. Dari bangun tidur udah berasa kepala berat, badan lemes, dan ngantuk terus. Biasanya cuma lemes bentar terus menjelang sore jadi segeran. Emang udah berasa badan di umur kepala 3 ini udah ngga sekuat dulu staminanya. Dulu waktu kepala 2, pernah ngga tidur ampir 2hari dan cuma berasa ngantuk aja. Tapi sekarang, begadang semalem aja bisa berantakan kondisinya.

Tadinya saya pikir cuma lelah biasa. Minggu saya ngga ke mana-mana, ngurusin cucian baju dan ngejar deadline sampai malem juga sih. Mungkin ada kontribusi dari Minggu yang engga istirahat. Tapi mungkin juga saya lagi mau flu. Abis gejalanya mirip kalo lagi mau sakit, lemes seharian yang ngga ilang walaupun udah minum kopi dan tidur bentar.

Kepala masih berat, maunya tidur, dan capek banget. Duh, semoga jangan sakit, kerjaan lagi numpuk ngga ada waktu buat tepar...

Wednesday, June 10, 2009

A Dubious Client

She is usually one of our favourite clients. We do a year contract for her monthly need of promotion. She is not demanding and rarely interferes our design process. As long as the output design fulfill the functional need of her promotion, everything comes smooth for both of us.

But, she has these partners, a kind like a passive partners who usually not involve in running the business, but sometimes come out and comment this and that. And strangely, she is really afraid of them. Once the partners said that the design fee paid to us for monthly promotion to us is too high, only for 'such a simple layout.' Under the pressure, she called us to discontinue the contract and switch to by-project deal. We noted her that it would be far more expensive if she did like that. Finally, she stayed with the contract instead. It was the first time we have a friction, caused by her meeting with her fellow 'respective' partners.

And then come the second time, again, triggered by the same partners. This time the partners complained her why the design outputs looked similar one to another. Well, it's why it's called an Identity, so yours is recognized for its special appearance. Beside that, there is a pictures problem. She is so reluctant to take a new pics and uses the same pics over and over to in all her materials. But her partners, rarely involved in the process, said they are bored with this. Unfortunately, my client who is supposed to know the process, already known what Identity is, and also her fault for not producing new pics, just kept her mouth silent and chosen to complain us instead. She doesn't care whether her partners are bored with the pics or the layouts.

Now, I'm the one who gets bored with her attitude. One day she said she loves the design, only to complain the same design to be boring another day. Well, I think she is so lack of self respect. She is the one who sweats to set an Identity for her business but so easily got down by her partners who accused her work is unworthy. In my opinion, she passively accepts an accusation that she had made a bad decision.

Unfortunately, I'm not interested to work for someone with the decision we can't trust. Months forward, our deal ended. I don't feel I want to continue it.